Pada akhir tahun 70-an, dunia musik berada di titik temu berbagai genre yang kelak akan membagi peta tangga lagu, daftar putar, dan basis penggemar secara permanen.
Namun, seperti yang ditunjukkan oleh daftar 10 lagu terbaik Blondie ini, band tersebut tampak tidak memedulikan semua itu. Atau lebih tepatnya, mereka sadar betul bahwa mereka sedang melintasi batasan-batasan genre—hanya saja, mereka tidak peduli.
Blondie muncul dari kancah musik punk di New York City, tetapi mereka jauh lebih melodius (dengan pendekatan yang lebih pop) dan tidak terlalu mengedepankan sisi artistik yang abstrak dibandingkan kebanyakan musisi sezamannya.
Mulai dari musik pop ala grup vokal wanita tahun 60-an yang mereka usung di awal karier, irama disko yang melambungkan nama mereka, hingga perpaduan inovatif antara new wave dan hip-hop dalam lagu "Rapture"—mereka jarang terpaku pada satu gaya saja.
Oleh karena itu, dalam daftar 10 lagu terbaik Blondie versi kami, Anda akan menemukan beragam corak musik yang berbeda.
10. In the Flesh (Blondie, 1976)
Sebelum menjadi bintang pop papan atas dan Debbie Harry menjelma sebagai ikon New Wave, Blondie hanyalah sebuah grup musik tangguh asal New York City yang menyaring musik pop grup vokal wanita tahun 60-an melalui kacamata punk. Dalam perjalanannya, mereka turut memelopori New Wave—sebuah turunan dari punk yang lebih ramah di telinga pendengar pop dan lebih terbuka terhadap berbagai pengaruh musik. Singel debut mereka, "X Offender," menyuguhkan nuansa yang lebih keras, sementara lagu berikutnya, "In the Flesh," terasa lebih berani—sebuah komposisi bergaya doo-wop ala grup vokal wanita yang mengalir lembut, sekaligus menjadi penanda arah bagi perjalanan musik Blondie yang terus berkembang dan dinamis di masa depan.
9. Picture This (Parallel Lines, 1978)
Dua album pertama Blondie meraih kesuksesan di berbagai belahan dunia, namun tidak di Amerika Serikat—negara yang tergolong lambat dalam merangkul tren punk/New Wave. Oleh karena itu, lagu dari album ketiga mereka, Parallel Lines—yang kelak menjadi titik balik kesuksesan mereka di AS—dirilis sebagai singel pertama di luar negeri, tepat sebulan sebelum album tersebut resmi diluncurkan. Irama yang lincah dan sentuhan pop ala grup vokal wanita dalam lagu "Picture This" ternyata hanyalah permulaan dari berbagai kejutan musikal yang tersaji dalam album tersebut.
8. The Tide is High (Autoamerican, 1980)
Menyusul kesuksesan besar lagu yang merajai lantai dansa, "Call Me" (lihat peringkat ke-2 dalam daftar 10 Lagu Terbaik Blondie versi kami), grup musik ini bereksperimen lebih jauh pada album kelima mereka dengan memasukkan berbagai unsur, mulai dari musik rap dan irama reggae hingga ketukan disko. "The Tide Is High"—sebuah lagu daur ulang dari karya yang kurang dikenal tahun 1967 milik grup asal Jamaika, The Paragons—dirilis sebagai singel pertama dan langsung melesat ke posisi nomor 1.
7. Hanging On the Telephone (Parallel Lines, 1978)
Lagu pembuka dalam album ketiga Blondie—album yang menjadi titik balik kesuksesan mereka—berfungsi sebagai jembatan antara rekaman-rekaman awal mereka yang bernuansa lebih kasar dengan era penciptaan lagu-lagu hit yang akan segera tiba. "Hanging on the Telephone" awalnya ditulis dan dibawakan oleh The Nerves, sebuah grup musik asal Los Angeles yang berumur pendek. Blondie tetap mempertahankan sentuhan New Wave dalam lagu tersebut, namun mempertajam melodinya. Mereka mulai menunjukkan keseriusan dalam bermusik.
6. One Way or Another (Parallel Lines, 1978)
Hampir semua penggemar sepakat bahwa Parallel Lines adalah album terbaik Blondie (empat lagu dari album ini masuk dalam daftar 10 Lagu Terbaik Blondie versi kami). Meski mungkin bukan album dengan keragaman genre paling luas, Parallel Lines nyaris mencapainya. "Heart of Glass" menjadi hit besar di kancah pop dan lantai dansa, sementara "One Way or Another"—sebuah lagu tentang cinta obsesif yang ditulis bersama oleh Debbie Harry, terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat diikuti oleh seorang mantan kekasih—menjadi lagu yang paling garang di album tersebut. Mulai dari dentuman riff gitar di bagian pembuka hingga bagian akhir yang penuh jeritan dan kekacauan, "One Way or Another" adalah bukti nyata sebuah grup musik hebat yang tengah membangun reputasinya.
5. Dreaming (Eat to the Beat, 1979)
Setahun setelah meraih hit nomor 1 pertama dari empat hit yang mereka miliki, Blondie kembali dengan karya pure power pop yang paling dahsyat. Mengambil inspirasi dari konsep Wall of Sound ala Phil Spector, "Dreaming" merangkum semua keunggulan Blondie—semangat ala grup vokal wanita (girl group), melodi pop yang memikat, serta perpaduan berbagai gaya dan era—yang dibalut dengan dentuman drum dan vokal latar yang sangat padat, menjadikannya salah satu rekaman dengan aransemen paling megah yang pernah mereka buat. Lagu ini hanya mencapai posisi ke-27, padahal seharusnya layak masuk dalam jajaran 10 besar.
4. Rapture (Autoamerican, 1980)
Album kelima Blondie bisa dibilang cukup berantakan. Setelah meraih kesuksesan di luar lingkup punk dan New Wave melalui dua lagu hit bernuansa disko, mereka memutuskan untuk bereksperimen secara total dalam album Autoamerican—memasukkan berbagai elemen, mulai dari jazz dan blues hingga musik khas kepulauan (island music) dan hip-hop, untuk melihat mana yang berhasil. Singel pertama album tersebut, "The Tide Is High," sukses menempati posisi nomor 1. Begitu pula dengan singel berikutnya, "Rapture," yang menjadi lagu pertama dengan unsur rap yang berhasil memuncaki tangga lagu. "Rapture" membuktikan bahwa Blondie—bahkan saat mereka tampak kurang mulus (gaya rap Debbie Harry memang tidak terlalu luwes)—jauh lebih berani bereksperimen dibandingkan hampir semua grup musik lain pada era tersebut.
3. Atomic (Eat to the Beat, 1979)
Debbie Harry mengakui bahwa lagu "Atomic" diciptakan dengan inspirasi dari hit global mereka, "Heart of Glass" (lihat posisi nomor 1 dalam daftar 10 Lagu Terbaik Blondie versi kami). Namun, entah bagaimana, sentuhan gitar ala film spaghetti-western turut disisipkan ke dalam perpaduan musik New Wave dan disko tersebut. Hasilnya, lagu ini terdengar jauh lebih futuristik dan mencekam daripada yang direncanakan—sebuah perpaduan keren dari berbagai gaya musik yang diusung oleh band ini.
2. Call Me (American Gigolo, 1980)
Produser disko ternama, Giorgio Moroder, awalnya menginginkan Stevie Nicks untuk ikut menulis dan merekam lagu tema bagi film American Gigolo—sebuah film kelam tentang pekerja seks pria. Untungnya, Debbie Harry dan Blondie hadir menggantikan (saat itu Nicks sedang sibuk mempersiapkan album solo perdananya) dan justru menghasilkan hit terbesar sepanjang karier mereka: "Call Me" bertahan di posisi nomor 1 selama enam minggu. Lagu ini dirilis tepat saat popularitas musik disko mulai surut dan kembali terbatas di kelab-kelab dansa. Sentuhan gaya New Wave dari Blondie terhadap genre tersebut ternyata menjadi elemen yang sangat dibutuhkan saat itu.
1. Heart of Glass (Parallel Lines, 1978)
Sebelum "Heart of Glass," Blondie adalah band kultus dengan akar musik punk. Setelah "Heart of Glass," mereka menjadi salah satu grup musik terbesar di dunia. Dengan tetap mempertahankan sentuhan punk mereka—yang untuk pertama kalinya dipadukan dengan musik disko (karena sebagian besar anggotanya memang penggemar genre tersebut)—Blondie menggabungkan riff synthesizer yang memukau dengan irama dansa yang sangat memikat. "Heart of Glass" tidak hanya melambungkan karier mereka, tetapi yang lebih penting, lagu ini membuktikan bahwa musik yang hebat mampu melintasi berbagai genre dan tidak terikat oleh batasan apa pun.
Comments
Post a Comment