Bagaimana T20 Mengubah Kriket Selamanya
Dua belas cara format pertandingan terpendek ini telah mengubah wajah olahraga tersebut
10 September 2026
Siapa pun pemenangnya, Piala Dunia T20 putra kesepuluh tahun ini telah menampilkan olahraga yang telah berubah drastis hingga nyaris tak bisa dikenali lagi. Kriket telah tumbuh menjadi raksasa komersial sejak lahirnya T20 pada tahun 2003; para pemain kini berkeliling dunia dengan kontrak jangka pendek dan bernaung di bawah waralaba swasta maupun tim nasional mereka—dan perubahan pada permainan di lapangan pun tak kalah mencoloknya.
Generasi Keenam
Trent Bridge menjadi tuan rumah pertandingan perempat final T20 Blast antara Nottinghamshire dan Somerset pada Agustus 2017, namun beberapa jam sebelumnya, Sky Sports merekam sebuah kontes memukul bola sejauh mungkin (mencetak six) yang melibatkan dua pemain hebat Inggris dari era modern. Andrew Flintoff, yang saat itu berusia 39 tahun, merupakan salah satu pemukul paling mematikan di generasinya; ia berhadapan dengan Jos Buttler, yang kala itu berusia 26 tahun dan masih dalam perjalanan menuju puncak performanya.
Tantangannya sederhana: Flintoff dan Buttler masing-masing menerima tiga lemparan latihan (throwdown) dari Rob Key—ditambah satu lemparan pemanasan—dan harus memukul bola sejauh mungkin. Flintoff, yang telah memainkan pertandingan profesional terakhirnya dua tahun sebelumnya, mencatatkan jarak terjauh 92 meter; sementara itu, saat Buttler memukul lemparan pemanasannya hingga melambung sejauh 103 meter ke tribun atas paviliun, Key dan pembawa acara Nasser Hussain tertawa terbahak-bahak.
Teknik Flintoff mengandalkan pukulan lurus, pergelangan tangan yang kaku, dan perpindahan berat badan; sebaliknya, Buttler mengandalkan kecepatan tangan dan gerakan menyentak pergelangan tangan saat mengenai bola. Ini adalah demonstrasi nyata tentang bagaimana T20 memberikan kebebasan lebih bagi para pemukul: Buttler tumbuh di era yang memungkinkannya untuk tidak terlalu memprioritaskan keamanan wicket-nya, melainkan lebih mengutamakan kemampuannya mencetak six.
Jika dulu ada peran bagi seorang "jangkar" (anchor) dalam tim, kini ada ekspektasi bahwa setiap pemukul dalam susunan pemain T20 papan atas harus mampu memukul bola hingga melewati batas lapangan (boundary). Pada musim pertama IPL, tercatat ada 2,7 pukulan four untuk setiap pukulan six; namun pada IPL 2023, angka tersebut turun menjadi 1,9 pukulan four untuk setiap pukulan six. Pada bulan April, Kolkata Knight Riders dan Punjab Kings mencetak total 42 pukulan six dalam satu pertandingan—rata-rata lebih dari satu six per over.
Penyelesai laga yang tangguh
Pada tahun 1990-an, Michael Bevan adalah sosok finisher (pemain yang bertugas menyelesaikan giliran pukul/ innings) bagi tim kriket satu hari Australia. Jarang ada pemain yang mampu mengatur tempo permainan sebaik dia: ia berhasil bertahan hingga akhir (not out) dalam 30 laga pengejaran skor ODI, dan Australia memenangkan 25 di antaranya. Dalam bukunya, Playing the One-Day Game, Adam Gilchrist menggambarkan Bevan sebagai sosok yang "ahli dalam penempatan bola yang cerdas, lari yang berani, dan teknik pukulan yang kreatif". Ia bukannya tidak memiliki tenaga, namun ia lebih mengandalkan kemampuan mengarahkan bola ke celah kosong dan bergantian posisi pukul (rotating strike); ia hanya mencetak 21 six sepanjang karier ODI-nya yang mencakup 232 pertandingan—atau satu six setiap 444 bola.
Pada Piala Dunia T20 bulan Juni 2024, Tim David berperan sebagai finisher Australia. Peran ini memiliki sebutan yang sama, dan seperti Bevan, David tidak pernah berhasil menembus tim sebagai pemukul (batter) format Test; bahkan, di usia 28 tahun, ia belum pernah sekalipun bermain dalam pertandingan kelas satu (first-class match). Namun, David adalah pemukul murni yang memanfaatkan postur tinggi dan kekuatannya untuk memukul bola hingga melewati boundary, mirip dengan gaya Kieron Pollard dan Andre Russell. Rata-rata ia hanya menghadapi 12 hingga 13 bola per pertandingan, namun ia mengantongi pendapatan tahunan sebesar US$1 juta hanya dari kontrak IPL-nya saja. Seni menyelesaikan giliran pukul (finishing an innings) telah berubah drastis hingga tak lagi sama seperti dulu.
Tunjukkan pukulan terbaikmu
Scoop, paddle, ramp, starfish: apa pun sebutannya, pukulan-pukulan ini sudah ada sebelum era T20. Douglas Marillier dan Ryan Campbell sudah melakukan gerakan menyentil dan menyendok bola melewati bahu kiri mereka bertahun-tahun sebelum Tillakaratne Dilshan melakukan pukulan lap terhadap bola Shane Watson hingga melewati kepala Brad Haddin di Trent Bridge. Pukulan reverse sweep bahkan sudah ada jauh lebih lama, setidaknya sejak tahun 1970-an.
Lantas, apa yang berubah? Kini, pukulan-pukulan yang dulunya hanya menjadi ciri khas para inovator olahraga ini telah menjadi hal yang umum dilakukan. Aaron Finch mengamati bahwa "hampir semua orang melakukan ramp, [dan] semua orang melakukan reverse-sweep serta hard-sweep", bahkan di kriket tingkat county—kompetisi yang biasanya tidak dianggap sebagai garda terdepan inovasi kriket. Para pemukul modern masa kini memiliki repertoar pukulan 360 derajat yang lengkap; buktinya bisa dilihat pada pukulan reverse slap luar biasa yang dilakukan Tristan Stubbs melewati area short third saat membela Delhi Capitals di IPL 2024.
Pebola spin tampil sebagai pemenang
Saat Inggris meluncurkan liga T20 profesional pertama pada tahun 2003, muncul anggapan luas bahwa hal ini merupakan kabar buruk bagi para pebola spin. "Kami pikir mereka tidak akan berkutik," kenang Adam Hollioake, kapten yang membawa Surrey menjuarai turnamen perdana Twenty20 Cup. Pola pikir tersebut mendominasi tahun-tahun awal format ini: bahkan butuh waktu hingga pertandingan internasional T20 putra yang ketiga bagi sebuah tim untuk menurunkan pebola spin utama.
Sebaliknya, bola spin justru menjadi elemen krusial dalam permainan T20: pebola spin mencatatkan rekor dengan melempar 41,7% dari total over di IPL 2023—dibandingkan hanya 23,2% pada tahun 2008—dan empat dari lima pengambil wicket terbanyak sepanjang sejarah format ini adalah pebola spin, dengan Dwayne Bravo sebagai satu-satunya pengecualian. Setiap tim T20 papan atas pasti diperkuat oleh wrist-spinner atau mystery spinner yang memiliki kemampuan membelokkan arah bola ke kedua sisi.
Dengan lima pemain lapangan ditempatkan di boundary, toleransi kesalahan bagi spinner jauh lebih besar dalam T20 dibandingkan dalam pertandingan Test. Seperti yang dikatakan R Ashwin, "Enam bola 'buruk' yang dirancang dengan cermat bisa menjadi strategi yang tepat dalam kriket T20." Format ini juga telah merevolusi cara leg-spin dilempar: kini lebih banyak spinner modern yang gayanya menyerupai Anil Kumble daripada Shane Warne, dengan tren lemparan yang jarak tempuhnya lebih pendek serta lintasannya lebih cepat dan datar—seperti yang diperagakan oleh Rashid Khan.
Spinner yang melepaskan bola dari bagian depan telapak tangan (front-of-the-hand) sempat mengalami pasang surut popularitas. Gaya ini sempat menghilang setelah ICC menindak tegas teknik lemparan yang mencurigakan, namun kini kembali populer: di Piala Dunia ini, kita bisa menantikan aksi Akeal Hosein, Mitchell Santner, dan Maheesh Theekshana yang melepaskan bola dengan posisi jahitan tegak (seam-up) yang melengkung (drift) ke arah pemukul tangan kanan saat menggunakan bola baru.
Gaya tidak lazim menjadi norma baru
Era T20 telah menormalisasi hal-hal yang tidak lazim, khususnya dalam hal lemparan cepat (fast bowling). Seamer dengan lintasan lemparan rendah ala ketapel (slingy) atau teknik yang unik terbukti sangat berharga di era modern: Lasith Malinga adalah fast bowler paling menonjol pada dekade pertama T20, dan mantan rekan setimnya di Mumbai Indians, Jasprit Bumrah, telah meneruskan tongkat estafet tersebut dalam sepuluh tahun terakhir.
Teknik lemparan Malinga dulunya dianggap unik, namun kesuksesannya telah melahirkan generasi peniru: Nuwan Thushara dari Sri Lanka dan Zaman Khan dari Pakistan juga menggunakan teknik lengan rendah ala ketapel, sementara Matheesha Pathirana—yang dijuluki "Baby Malinga"—merupakan anak didiknya dan kerap berhasil merobohkan stump lawan di IPL.
Bermain dengan tempo lambat
Dwayne Bravo, pemegang rekor wicket terbanyak sepanjang masa dalam format ini, telah menjadi pelopor dalam hal variasi lemparan: menjelang akhir kariernya, ia sering melepaskan hingga 20 bola lambat (slower ball) dalam satu giliran empat over. Setiap fast bowler yang bermain di berbagai format kini setidaknya memiliki satu jenis slower ball, bahkan sering kali dua atau tiga jenis: off-cutter, leg-cutter, lemparan punggung tangan (back-of-the-hand), atau knuckleball.
Beberapa spesialis T20—seperti Ravi Bopara—bahkan telah mencapai tahap di mana mereka secara eksklusif hanya melepaskan bola-bola variasi kecepatan (change-up). Benny Howell, pemain all-rounder asal Inggris, sulit dikategorikan: profil ESPNcricinfo-nya mendeskripsikan gaya lemparannya sebagai "lengan kanan kecepatan sedang" (right-arm medium), namun ia sendiri menyebut dirinya sebagai "pelempar spin cepat" dan pernah dengan santai mengklaim memiliki 50 jenis lemparan berbeda dalam gudang senjatanya.
Pemain lapangan impian
Saksikan cuplikan pertandingan apa pun dari abad ke-20 dan Anda akan terperangah melihat standar permainan lapangannya—dan bukan dalam artian positif. Anda akan beruntung jika melihat ada pemain yang meluncur (sliding) di area luar lapangan (outfield) demi mencegah boundary (pukulan yang menghasilkan poin maksimal). Lebih sering, para pemain lapangan justru mengawal bola layaknya pengawal pribadi, sembari menjaga jarak aman.
Situasi membaik seiring profesionalisasi olahraga ini, namun perubahan mencolok terjadi di era modern. "T20 memicu perubahan momentum nyata dalam permainan lapangan dan sikap terhadapnya," ujar Paul Collingwood. Aksi relay catch (operan tangkapan antar-pemain) kini begitu umum hingga kartu skor ESPNcricinfo mencatat nama kedua pemain yang terlibat. Sebagian besar tim berlatih relay catch tepat sebelum pertandingan dimulai.
Hanya segelintir pemain yang bisa lolos dari sorotan saat "disembunyikan" di posisi lapangan tertentu, dan perubahan ini paling terlihat pada para pelempar bola cepat (fast bowler). Pada generasi sebelumnya, mereka hampir tidak bisa menyembunyikan rasa enggan terhadap aspek permainan ini; kini, bahkan Reece Topley yang bertinggi badan 201 cm (6 kaki 7 inci) bisa terlihat melakukan tangkapan spektakuler di posisi short fine leg dalam ajang IPL. Saat BBL mengadakan jajak pendapat mengenai tangkapan terbaik musim 2023-24 awal tahun ini, keempat pilihan teratas melibatkan Michael Neser.
Ikuti perkembangannya, dong
Masa-masa awal T20 memunculkan teori bahwa format ini akan membangkitkan kembali peran spesialis wicketkeeper (penjaga gawang kriket), yang dipilih karena keahlian menangkap bola (glove work) ketimbang kemampuan memukul (batting). Kenyataannya, justru hal sebaliknya yang terjadi; karena penjaga gawang umumnya hanya terlibat dalam sedikit aksi per innings (babak), kebanyakan tim merasa cukup menempatkan pemain paruh waktu atau sekadar penjaga gawang darurat di belakang stump, asalkan mereka bisa berkontribusi signifikan saat memukul bola.
Para penjaga gawang pun menjadi semakin inovatif, dengan adanya pergeseran teknik dari penggunaan tangan yang lentur (soft hands) menuju tangan yang kuat dan kokoh (strong hands). Gerakan tangan secepat kilat dan aksi run-out tanpa perlu melihat arah bola (no-look run-out) ala MS Dhoni telah menjadi tolok ukur—tidak ada wicketkeeper lain yang mencatatkan jumlah dismissal (pemecatan pemukul) sebanyak dirinya dalam format ini—namun standar permainan telah meningkat pesat; lihat saja aksi stumping Heinrich Klaasen terhadap Shikhar Dhawan saat ia berdiri dekat dengan wicket (posisi up to the stumps) untuk menghadapi lemparan Bhuvneshwar Kumar sebagai buktinya.
Apakah kita memiliki kecocokan strategi (match-up) yang tepat?
Istilah ini mungkin baru, meskipun gagasannya tidak demikian: dalam seri Ashes 1932-33, Douglas Jardine menyadari bahwa lemparan bola cepat yang agresif merupakan strategi tandingan (match-up) terbaik untuk menghadapi Donald Bradman. Dalam format permainan apa pun, namun khususnya pada kriket limited-overs (jumlah over terbatas), para kapten selalu berupaya mengerahkan bowler mereka pada saat yang paling tepat; begitu pula pasangan pemukul yang selalu berusaha memastikan bahwa pemukul yang paling sesuai berada di posisi menghadapi lemparan dari bowler yang juga paling sesuai. Namun, format T20 telah mengubah pola pikir kapten secara mendasar, di mana keputusan mereka kini lebih banyak dilihat dari sudut pandang pengelolaan dan pengerahan sumber daya.
Bukti statistik semakin memperkuat teori lama yang menyatakan bahwa batter merasa jauh lebih mudah menghadapi bola yang berputar ke arah mereka dibandingkan bola yang berputar menjauh. "Jika Anda seorang fingerspinner—baik left-arm spinner maupun offspinner—Anda harus tahu cara memutar bola ke arah sebaliknya agar tim memiliki keyakinan untuk memainkan Anda sebagai bowler sejati," ujar Dinesh Karthik.
Hal ini juga telah meningkatkan peran analisis data: setiap area tim (dugout) dalam pertandingan T20 di seluruh dunia kini melibatkan setidaknya satu analis—bahkan bisa dua atau tiga orang—yang pengaruhnya mungkin jauh lebih besar daripada yang disadari banyak orang. Penggunaan data telah memperkaya olahraga ini, dan umumnya mendukung naluri para pemain yang paling agresif dalam menyerang: "Orang-orang terus-menerus berbicara tentang pengambilan risiko dan betapa berisikonya kriket T20," kata Eoin Morgan dalam buku Cricket 2.0. "[Namun] secara alami, Anda tidak mengambil risiko setinggi yang seharusnya, atau setinggi yang disarankan oleh data."
Wicket dianggap murah
Mungkin perbedaan terbesar antara kriket format 50-over dan 20-over terletak pada nilai dari satu wicket. Sekitar sepertiga dari babak (innings) ODI berakhir dengan kondisi tim all-out (seluruh pemukul gugur), sedangkan dalam T20I, angka tersebut hanya sekitar seperlima. Dampak utamanya sudah bisa ditebak: pemukul menjadi lebih bebas untuk menyerang tanpa terlalu khawatir akan risiko kehilangan wicket mereka. Sebagai contoh, Virat Kohli tercatat gugur sekali setiap 63 bola dalam ODI, namun sekali setiap 37 bola dalam T20I.
Kontras ini memunculkan konsekuensi yang menarik. Semakin sering terjadi situasi di mana tim lawan justru diuntungkan jika membiarkan pemukul yang sedang kesulitan tetap berada di lapangan (crease). Pada tahun 2014, Yuvraj Singh hanya mencetak 11 run dari 21 bola di final Piala Dunia T20; hal ini membatasi kesempatan MS Dhoni hanya pada tujuh bola dan membuat Suresh Raina sama sekali tidak bermain. Akibatnya, Sri Lanka berhasil mencapai target 131 run dengan sisa 13 bola. Respons terbaru terhadap situasi ini adalah tim-tim yang menganggap wicket tidak terlalu berharga, sehingga mereka merasa tidak keberatan untuk menarik keluar pemukul yang sedang kesulitan (retiring out). R Ashwin, seperti yang sering dilakukannya, menjadi pelopor tren ini.
Faktor keberuntungan lemparan koin
Dulu merupakan bagian paling sederhana dari sebuah pertandingan, kini proses lemparan koin (toss) menjadi semakin rumit, dan terkadang tampak menentukan hasil akhir dari keseluruhan turnamen. Di era pemain impact (pemain pengganti taktis), kapten IPL maju untuk melakukan undian (toss) dengan membawa dua daftar susunan pemain yang berbeda dan menentukan sebelas pemain utama (starting XI) yang berlainan, tergantung pada apakah mereka akan memukul (batting) atau melempar bola (bowling) lebih dulu; sementara di BBL, metode lempar koin tradisional telah digantikan oleh aksi unik melempar tongkat pemukul (bat flip).
Namun, perubahan sesungguhnya terkait undian ini terletak pada pengaruh besarnya terhadap hasil pertandingan T20, khususnya pada laga malam hari dengan lampu sorot (floodlit games) di mana kondisi lapangan berubah drastis dari satu babak ke babak berikutnya. Sepanjang sejarah T20, terdapat kecenderungan yang sedikit menguntungkan tim yang mengejar skor (chasing team), namun dalam turnamen-turnamen tertentu, muncul anggapan kuat bahwa "memenangkan undian berarti memenangkan pertandingan": pada Piala Dunia T20 tahun 2021 di UEA, tim yang mengejar skor memenangkan 22 dari 33 pertandingan malam hari sejak fase Super 12 dan seterusnya, termasuk ketiga pertandingan fase gugur. Australia, yang akhirnya keluar sebagai juara, memenangkan undian dalam keenam kemenangan mereka; satu-satunya saat mereka kalah dalam undian, mereka justru kalah telak dari Inggris di Dubai.
Pandangan tentang T20
Pengaruh T20 terhadap permainan kriket modern terlihat jelas di berbagai format pertandingan. Pada tahun 2003, pertandingan Test mencatatkan rata-rata 3,20 run per over dan 36,33 run per wicket; pada tahun 2023, perolehan run menjadi lebih cepat (3,52 run per over) dan wicket lebih sering jatuh (32,50 run per wicket). Perbandingan ini sedikit lebih sulit dipetakan pada format ODI karena perubahan kondisi permainan yang signifikan, namun laju perolehan skor telah melonjak dari 4,67 run per over pada tahun 2003 menjadi 5,54 run per over pada tahun 2023.
Banyak momen terbaik dalam kriket Test selama lima tahun terakhir berkaitan erat dengan keterampilan yang diasah melalui T20: contohnya adalah pukulan reverse-sweep yang dilakukan Ben Stokes saat mencetak skor 135 not out melawan Australia di Headingley pada tahun 2019, atau lemparan yorker dan slower ball memukau dari Jasprit Bumrah yang masing-masing ditujukan kepada Ollie Pope dan Ben Foakes di Visakhapatnam awal tahun ini. Bahkan para purist—penggemar kriket tradisional yang enggan menonton pertandingan T20—tetap menyaksikan permainan yang telah dibentuk oleh format tersebut.
Sumber: thecricketmonthly
Comments
Post a Comment