Kisah Film Terbaik: Episode 375 - Waking Life (2001)

 Film Mimpi Sadar Terbaik Sepanjang Masa

13 September 2026

Rilis: 19 Oktober 2001
Sutradara: Richard Linklater
Durasi; 101 Menit
Genre: Animasi/Drama
RT: 81%


Meskipun tayang perdana di Sundance pada Januari 2001, Waking Life akan selalu terasa sebagai film tentang peristiwa 9/11. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh ulasan Roger Ebert pada bulan Oktober tahun itu, di mana ia menulis bahwa film tersebut "hadir pada saat yang paling tepat." Bagi Ebert, penggambaran Richard Linklater tentang "karakter-karakter cerdas dan pandai bicara yang mencari makna keberadaan mereka namun tidak memiliki jawabannya" terasa—tepat setelah runtuhnya Menara Kembar—seperti "guyuran air dingin yang menyegarkan dan menjernihkan pikiran." Di sisi lain, Amerika Serikat dilanda gejolak emosi yang keras; segala saluran media audiovisual massa menyerukan pembalasan dendam yang dianggap benar terhadap pihak-pihak yang mengusik Pax Americana. Situasi ini memicu semacam psikosis yang haus darah di kalangan banyak orang Amerika. Namun, ada pula yang mampu melihat melampaui hiruk-pikuk itu: Hunter S. Thompson sudah berada dalam pola pikir yang jernih dan tajam ketika, sehari setelah serangan terjadi, ia menulis, "Jangan salah sangka: Kita sekarang sedang Berperang—melawan entah siapa—dan kita akan terus Berperang melawan Musuh misterius itu sepanjang sisa hidup kita."

Ebert sendiri tidak luput dari psikosis tersebut. "Di saat orang-orang gila merasa berhak membunuh kita karena apa yang mereka yakini tentang kehidupan setelah kematian," tulis Ebert dalam ulasan Waking Life yang sama—sebuah hal yang secara definisi mustahil untuk diketahui—"mereka yang tidak tahu jawabannya justru adalah satu-satunya pihak yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang waras." Pemisahan antara "orang-orang gila" yang "merasa tahu tentang kehidupan setelah kematian" dan "kita"—pihak Amerika—menunjukkan bahwa Ebert sepenuhnya menyalahkan apa yang saat itu dicap jahat oleh media sebagai "Islam radikal"; sebuah pelabelan yang menyederhanakan kompleksitas geopolitik, sosiokultural, dan agama menjadi kebencian yang merendahkan martabat manusia, yang pada akhirnya berujung pada kematian jutaan orang di Timur Tengah. Dalam tulisan yang sama di mana ia memuji pentingnya mengajukan pertanyaan, Ebert sebenarnya sudah menyiratkan jawabannya sendiri.

Salah satu faktor keberhasilan Waking Life bukanlah semata-mata karena para karakternya "tidak memiliki jawaban"—banyak karakter dalam film tersebut justru merasa memiliki informasi yang layak diikuti—melainkan karena mereka berupaya memancing pemikiran alih-alih mengendalikannya. Linklater bahkan secara eksplisit menyatakan dalam komentar sutradara bahwa "tujuan utamanya adalah berkomunikasi. Saya tidak ingin film ini menjadi samar atau sulit dipahami; saya ingin film ini bisa dimengerti." Dengan demikian, saat tokoh pemimpi tanpa nama yang diperankan Wiley Wiggins berkelana di dunia bergaya rotoscope karya Linklater sembari mendengarkan ocehan filosofis, nada film ini terasa akrab dan mengundang, bukan menggurui. Seperti halnya Slacker, Waking Life lebih menitikberatkan pada cara menjalani hidup dan cara bercakap-cakap, ketimbang nilai-nilai teoretis yang dianut oleh deretan karakternya. Film-film ini berkisah tentang menjalani hidup dengan rasa ingin tahu dan menjadi partisipan aktif dalam pertukaran gagasan; di tengah momen yang memicu reaksi spontan seperti peristiwa 9/11, tindakan sederhana seperti duduk dan merenung memiliki nilai radikal yang tenang.

Waking Life beralih dari satu orang ke orang lain dengan santai—mengikuti alur yang seluwes gaya visualnya yang terus berubah—namun tetap berpijak pada latar tempat dan suasana percakapan nyata; entah itu mahasiswa yang mendengarkan dosen, teman-teman yang mengobrol di kafe, atau pengunjung yang berbagi cerita di bar. Film ini tidak memiliki alur linier yang bergerak dari satu titik ke titik berikutnya secara langsung seperti Slacker, namun tekstur dialog garapan Linklater tetap mempertahankan irama spontan layaknya seseorang yang sedang menyuarakan isi pikirannya.

Waking Life menjadi penutup trilogi lepas karya Linklater yang bertema pengembaraan, kegiatan menyimak, dan mimpi, menyusul It’s Impossible To Learn To Plow By Reading Books dan Slacker. Slacker dibuka dengan penampilan Linklater sendiri sebagai seorang pengembara tanpa nama; ia terbangun dari tidur di dalam bus dan tampak lebih banyak bicara dari biasanya. "Pernahkah Anda mengalami mimpi yang terasa sangat nyata?" tanya Linklater kepada sopir taksi. Sang sopir menurunkannya di depan The Castilian di Austin; satu dekade kemudian, Linklater mengarahkan tokoh pengembara yang diperankan Wiggins ke persimpangan yang sama dalam Waking Life. Wiggins turun di blok yang sama, berjalan menuju sudut jalan yang sama, lalu menemukan sebuah pesan di persimpangan itu yang memintanya menoleh ke kanan—hanya untuk mendapati gril mobil yang melaju tepat ke arahnya. Hal itu memicu pengalaman "bangun semu" (false awakening), sehingga ia melanjutkan aktivitas hariannya tanpa menyadari bahwa dirinya sebenarnya masih berada dalam mimpi.

"Belakangan ini, hidup terasa berat bagi para pemimpi," ujar karakter lain. “Orang bilang bermimpi sudah mati dan tak ada lagi yang melakukannya. Padahal tidak mati, hanya terlupakan. Tersingkir dari bahasa kita. Tak ada yang mengajarkannya, jadi tak ada yang tahu hal itu ada. Dan sang pemimpi pun terbuang ke dalam ketidakjelasan. Nah, saya berusaha mengubah semua itu, dan saya harap Anda juga demikian.” Mudah dipahami mengapa, di tengah rasa kecewa dan putus asa, Ebert—dan banyak orang Amerika lainnya—begitu terpikat pada momen-momen seperti ini; mengapa Ebert sudah menonton Waking Life tiga kali dan bahkan ingin menontonnya lagi. Suasana seperti mimpi di dalam bioskop bisa menjadi lebih dari sekadar pelarian—ia bisa menjadi sarana penyelamatan diri secara pribadi dan mental.

“Saya ingat pernah merasa seolah-olah segala sesuatu di luar hidup saya yang bukan sinema terasa seperti kehampaan,” kenang Linklater dalam komentar audio untuk Plow. “Hubungan asmara, ikatan keluarga, segalanya. Mungkin itu adalah masa yang memang diperlukan—saat kita harus memisahkan diri dari segala hal yang kita kenal sebelumnya atau mendefinisikan jati diri sebagai orang dewasa... Sinema-lah yang menyelamatkan saya.” Bertahun-tahun kemudian, Linklater mengatakan kepada Kogonada dalam On Cinema & Time bahwa “Sinema sudah ada selama ratusan ribu tahun dalam wujud mimpi. Orang-orang langsung tahu cara menonton film karena mereka sudah melakukannya setiap malam sejak dahulu kala.” Sinema adalah aktivitas yang lebih didasari kehendak bebas dibandingkan bermimpi—di mana seseorang harus memilih untuk terlibat—namun jika ada satu kata untuk menggambarkan sinema Linklater, kata itu adalah “partisipatif.”

Mulai dari kegemarannya menggunakan wide shot (pengambilan gambar jarak jauh) yang memberi ruang luas bagi berbagai karakter untuk bergerak dan bergestur, hingga percakapan-percakapan yang panjang lebar, sinema Linklater senantiasa mengedepankan keterlibatan. Keterlibatan Linklater sendiri dengan dunia berkembang dari perjalanan-perjalanan biasa dalam Plow, ke film Slacker yang digerakkan oleh interaksi antarmanusia namun terasa agak tercerai-berai, hingga monolog-monolog dalam Waking Life—yang disimak dengan penuh keseriusan oleh karakter pemimpi yang diperankan Wiggins. Karya-karya Linklater, yang awalnya begitu lekat dengan potret kaum muda yang lesu dan tanpa arah, perlahan menjadi lebih matang di hadapan penontonnya. “Saya sangat bersimpati pada anak-anak muda usia dua puluhan yang ingin melakukan sesuatu yang berbeda atau menemukan hal yang paling mereka minati,” ujar Linklater dalam komentar audio Plow, “ingin menjalani hidup yang bermakna, atau merasa bahwa apa yang mereka lakukan memiliki nilai bagi diri sendiri maupun komunitas mereka.” Dalam Waking Life, Linklater tidak sekadar melukiskan potret kaum muda yang lesu, melainkan sosok muda yang siap menjangkau dunia dan belajar. Tidak mengherankan jika Ebert menganggap hal ini begitu menyegarkan dan menggugah semangat.

Hal yang tak kalah menarik adalah pernyataan seorang profesor dari UT Austin di bagian awal film Waking Life. “Saya khawatir kita mulai kehilangan kemampuan untuk menjalani hidup dengan penuh gairah, untuk bertanggung jawab atas jati diri kita, untuk mewujudkan potensi diri, dan untuk merasa bahagia dengan kehidupan ini,” ujar Robert C. Solomon. “Hidupmu adalah milikmu untuk diciptakan.” Gagasan yang menginspirasi ini turut membentuk apa yang disebut Linklater sebagai "kebangkitan kembali individu," sebuah tema yang menjadi sorotan utama di awal abad ke-21 (ingatlah saat majalah Time menobatkan "Anda" sebagai Person of the Year pada tahun 2006). Di era ketika reaksi publik cenderung seragam—seperti masa sesaat setelah peristiwa 9/11—gagasan ini bisa terasa membebaskan, namun bukannya tanpa risiko atau jebakan tersendiri.

Waking Life juga menjadi terkait erat (dan dalam konotasi negatif) dengan peristiwa 9/11 karena keputusan Linklater menampilkan Alex Jones—seorang tokoh radio eksentrik asal Austin yang kemudian mencuat ke sorotan nasional sebagai pelopor gerakan "penganut teori konspirasi 9/11" (9/11 truther). Tepat pada hari serangan itu terjadi, Jones melontarkan klaim bahwa pemerintahan Bush telah mendalangi pengeboman World Trade Center sebagai operasi false flag (rekayasa serangan untuk memicu tindakan tertentu). Linklater mengolah kembali adegan Jones dari filmnya yang terdahulu, Slacker—di mana Jones berkeliling sambil melontarkan ocehan penuh kekerasan melalui pengeras suara yang dipasang di mobil—menjadi sosok Jones yang wajahnya memerah padam hingga keunguan, berteriak lantang lewat pengeras suara sembari melaju ke arah selatan di Congress Avenue dengan latar belakang Gedung Capitol Negara Bagian Texas. Sebagian pihak menggunakan kemunculan Jones dalam Waking Life (mengingat reputasi Jones yang sudah dikenal luas di Austin kala itu) sebagai bukti tambahan bahwa Linklater secara diam-diam menyetujui segala hal yang dilontarkan Jones dalam film-filmnya. Namun, anggapan tersebut tidak sejalan dengan pandangan politik liberal Linklater yang tercermin dalam film-filmnya yang mengkritik keras pemerintahan Bush, seperti Fast Food Nation dan A Scanner Darkly (dua karya Linklater yang secara terang-terangan mengangkat tema konspirasi—silakan tafsirkan sendiri kaitannya dengan pandangan sang sutradara mengenai 9/11), ataupun iklan politiknya yang menentang Ted Cruz.

Intinya, film-film Linklater berupaya menggambarkan keseluruhan lingkungan tempat tinggalnya: kawasan Austin bagian utara yang penuh dengan nuansa intelektual dan obrolan yang mengalir bebas ke berbagai arah, dihuni oleh beragam kalangan mulai dari profesor, penganut paham libertarian, anak-anak punk, hingga orang-orang eksentrik. Linklater melihat adanya kontradiksi dalam hal ini, yang mencerminkan karakteristik tempat dan zaman tersebut. Dalam film pendek karya Linklater tahun 2002 berjudul Live From Shiva’s Dance Floor, ia kembali menampilkan sosok karakter yang sebelumnya muncul di Waking Life. "Kita memiliki kemampuan luar biasa untuk merasakan dua hal secara bersamaan layaknya suara stereofonik," ujar pria tersebut. Saya bisa memberikan penghormatan dan tetap teguh, serta merasakan duka dan kehilangan terkait peristiwa 11 September, namun pada saat yang sama—dengan semangat yang sama pula—saya bisa mengatakan kepada Anda bahwa saya tidak pernah menganggap World Trade Center sebagai sesuatu yang begitu mulia.

Setelah 25 tahun berlalu, penekanan Linklater pada sosok individu, segala kontradiksi mereka, serta hasrat mereka untuk meraih pemenuhan diri tetaplah memikat; namun, gagasan mengenai individualisme justru terasa hampa—sebab Waking Life dengan jelas memperlihatkan bahwa di masa kekosongan batin, orang lainlah yang mampu membantu mengisi kehampaan tersebut. Meski film ini dirilis sebelum peristiwa 9/11, Waking Life menawarkan peluang untuk melepaskan diri dari psikosis yang ditimbulkan oleh peristiwa itu, serta memanfaatkan "kesempatan mendalam untuk penemuan kembali jati diri, penataan ulang prioritas, dan cara berpikir baru" sebagaimana disuarakan oleh sosok pria dalam adegan Shiva’s Dance Floor. "Di belakang saya ini, mungkin bagi Anda tampak seperti sekadar lubang di tanah, namun sesungguhnya ini adalah kesempatan yang indah dan penuh berkah untuk terlahir kembali." Dalam skala budaya yang lebih luas, hal tersebut tidak terjadi pasca-serangan itu. Namun, jika ditinjau dari masa kini—di tengah rentetan peristiwa mengguncang dunia yang terus terjadi silih berganti—peluang itu masih terasa nyata, dan gagasannya pun masih terasa menyegarkan sebagaimana yang dirasakan Ebert pada bulan Oktober 2001.

Sumber: avclub

Comments

Popular