18 Agustus 2026
Jeff Goldblum telah menyuguhkan penampilan yang karismatik dan unik sejak pertengahan tahun 70-an, dan perannya dalam Wicked membuktikan bahwa pesonanya sama sekali tidak memudar. Sebagai aktor yang serba bisa dan energik, Goldblum telah tampil gemilang dalam berbagai genre—mulai dari komedi dan drama hingga horor tubuh yang menjijikkan—dan selalu tampak menikmati setiap peran yang ia mainkan. Mengingat hal tersebut, daftar ini menyoroti beberapa proyek terbaiknya.
Secara khusus, peran-peran Goldblum sering kali memadukan pembawaan yang unik dan intelektual dengan momen-momen emosional atau kepahlawanan yang tak terduga, baik saat ia menjadi ilmuwan yang memikat dalam Jurassic Park maupun penemu yang paranoid dalam The Fly. Suaranya yang khas dan karismanya yang unik menjadikannya aset berharga, baik bagi film independen maupun film blockbuster.
10. Independence Day (1996)
"Selamat datang di Bumi!" Salah satu film tersukses secara komersial yang dibintangi Goldblum adalah Independence Day karya Roland Emmerich, yang meraup pendapatan fantastis sebesar $817 juta. Ia berperan sebagai David Levinson, seorang ilmuwan yang mengungkap rencana invasi alien dan menjadi salah satu tokoh kunci dalam perjuangan umat manusia untuk bertahan hidup. Ketika armada pesawat luar angkasa alien tiba untuk menghancurkan Bumi, David bekerja sama dengan sekelompok personel militer yang beragam—termasuk Kapten Steven Hiller (Will Smith)—untuk melancarkan serangan balik. Apple kemudian menggunakan cuplikan karakter Goldblum beserta laptop PowerBook 5300 miliknya dalam beberapa iklan mereka.
Film ini sedikit terganggu oleh terlalu banyaknya subplot dan nada cerita yang tidak konsisten, namun berhasil menyuguhkan visual yang memukau dan kekacauan berskala besar. Efek visualnya pun tergolong luar biasa pada masanya. Secara tematis, Goldblum menyebut bahwa Independence Day adalah film tentang "kerja sama tim antara orang-orang dari berbagai agama dan kebangsaan untuk mengalahkan musuh bersama."
9. Igby Goes Down (2002)
"Aku hanya agak gila, itu saja." Dalam Igby Goes Down, Goldblum memerankan D.H. Hyman, seorang pengusaha kaya dan eksentrik yang menjadi antagonis bagi tokoh utama, Igby Slocumb (Kieran Culkin). Berlatar di lingkungan keluarga yang disfungsional, kisah yang bernuansa mirip novel Catcher in the Rye ini mengikuti perjalanan Igby saat ia bergulat dengan hubungan-hubungan rumit dalam hidupnya, termasuk hubungannya yang penuh gejolak dengan sang ayah.
Penampilan Goldblum sebagai D.H. tergolong kompleks; ia mampu tampil jenaka sekaligus menyeramkan. Dia adalah sosok pria yang tampaknya memiliki segalanya, namun kepribadiannya yang dingin dan menjaga jarak menjadikannya sosok yang mengintimidasi dalam hidup Igby. Ini adalah tipe karakter yang sebenarnya bisa saja terasa klise atau dangkal, namun Goldblum berhasil menghidupkannya dengan kedalaman karakter yang nyata. Secara keseluruhan, jajaran pemeran yang berbakat (termasuk nama-nama seperti Claire Danes, Susan Sarandon, Amanda Peet, dan Jared Harris) mengangkat kualitas film ini melampaui kebanyakan film drama komedi lainnya. Culkin juga tampil memukau, memberikan isyarat akan kemampuan akting hebat yang kelak ia tunjukkan saat memerankan Roman Roy dalam serial Succession.
8. The Grand Budapest Hotel (2014)
“Tidak usah repot-repot. Itu bukan masalah besar.” Sebagai salah satu film Wes Anderson yang paling memikat, The Grand Budapest Hotel berpusat pada sosok eksentrik M. Gustave H. (Ralph Fiennes)—sang concierge hotel—dan persahabatannya dengan seorang pelayan lobi bernama Zero (Tony Revolori). Goldblum memainkan peran kecil namun berkesan sebagai Deputy Kovacs yang unik; ia menjadi bagian dari alur cerita rumit yang melibatkan pencurian lukisan, pembunuhan, dan perebutan warisan.
Penampilan singkat Goldblum menambah nuansa jenaka nan unik ke dalam dunia ciptaan Anderson yang penuh dengan karakter penuh warna dan eksentrik. Ia menyatu dengan sempurna dalam estetika khas Anderson, yang menjelaskan mengapa keduanya begitu sering bekerja sama. Sang aktor kerap mengungkapkan antusiasmenya saat berada di lokasi syuting serta betapa ia menikmati kolaborasinya dengan Anderson dan para pemeran lainnya. “Saya sangat menyukai film ini, menurut saya hasilnya luar biasa,” ujarnya. “Ini adalah karya epik berskala besar, namun sekaligus merupakan proyek seni indah yang digarap dengan sentuhan personal yang mendalam.”
7. Wicked (2024)
“Apakah kita semua hanya menjalani hidup di dunia kecil kita masing-masing?” Sebagai salah satu film paling sukses tahun ini, film yang diadaptasi dari pertunjukan musikal menjadi blockbuster ini mengisahkan para penyihir Oz. Ceritanya berfokus pada hubungan yang kompleks dan sering disalahpahami antara Glinda si Penyihir Baik (Ariana Grande) dan Elphaba (Cynthia Erivo), si Penyihir Jahat dari Barat. Film ini menuai pujian luar biasa berkat musiknya yang indah dan jajaran pemeran yang memukau, termasuk Goldblum yang tampil sebagai pemeran pendukung sebagai The Wonderful Wizard of Oz.
Di sini, Goldblum memamerkan kemampuan vokalnya sekaligus insting bermusiknya (ia sendiri sebenarnya memiliki grup musik jazz). Kemampuan menarinya pun tak kalah fantastis. Dia juga berhasil membawakan karakter Wizard yang eksentrik dan agak meresahkan dengan sangat pas, terutama sikapnya yang sok manis layaknya seorang penjaja barang. Dia adalah seorang penipu tanpa kekuatan nyata yang harus mengandalkan kata-kata dan ilusi demi mencapai tujuannya. Tentu saja, kemampuan vokal Goldblum tidak sehebat para pemeran utama lainnya, namun dia tetap menjadi pilihan yang tepat untuk peran ini.
6. Invasion of the Body Snatchers (1978)
“Percayalah, kau keliru. Ini bukan manusia!” Philip Kaufman—sutradara di balik The Unbearable Lightness of Being—menyutradarai remake yang mencekam dari film klasik fiksi ilmiah karya Don Siegel tahun 1956 ini. Film ini berkisah tentang sekelompok orang yang mendapati bahwa spora tanaman asing sedang menciptakan tiruan manusia dan menggantikan mereka dengan sosok-sosok tanpa emosi yang lahir dari “polong”. Goldblum memegang peran kunci sebagai seorang reporter yang menyelidiki berbagai kejadian aneh di San Francisco.
Penampilannya sungguh memukau; Goldblum dengan piawai memerankan sosok pria biasa yang terjebak dalam situasi luar biasa. Ia didukung oleh jajaran aktor hebat lainnya seperti Donald Sutherland, Brooke Adams, dan Leonard Nimoy. Selain akting yang apik, penyutradaraan dan naskahnya pun sangat solid, menjadikan Invasion of the Body Snatchers sebuah film fiksi ilmiah yang layak ditonton ulang. Sama halnya dengan film aslinya yang mencerminkan kecemasan era Perang Dingin tahun 1950-an, versi ini sangat terasa sebagai produk dari akhir tahun 70-an yang penuh kekecewaan, saat skandal Watergate dan berbagai skandal lainnya telah mengikis kepercayaan publik terhadap otoritas. Film ini menyuguhkan komentar sosial di balik ketegangan khas genre fiksi ilmiahnya.
5. Silverado (1985)
“Mungkin bukan ide bagus untuk membunuh orang yang tidak kau kenal.” Silverado adalah film western revisionis yang memadukan aksi dan humor, mengisahkan empat pahlawan tak terduga—Paden (Kevin Kline), Emmett (Scott Glenn), Mal (Danny Glover), dan Jake (Kevin Costner)—saat mereka tiba di kota yang menjadi judul film ini. Goldblum berperan sebagai penjudi ulung bernama Slick, sosok dengan motivasi yang lebih kompleks daripada kesan awalnya.
Hampir seluruh jajaran pemain tampil prima di sini, termasuk Goldblum. Film ini berhasil karena mendemistifikasi genre western; alih-alih menampilkan pahlawan yang tampak sempurna dan luar biasa, film ini menghadirkan karakter-karakter manusiawi yang memiliki kekurangan serta motivasi yang terasa nyata. Memang, film ini memuat sejumlah elemen plot dan adegan aksi yang sudah umum dalam genre ini, namun semuanya dieksekusi dengan penuh gaya dan ketelitian. Hal ini tidak mengherankan, mengingat naskah dan penyutradaraannya digarap oleh Lawrence Kasdan, penulis naskah Raiders of the Lost Ark. Semua elemen tersebut menjadikan film ini salah satu karya western terbaik di era 1980-an.
4. The Big Chill (1983)
“Terkadang, kau hanya perlu berkata, ‘Maafkan aku.’” Satu lagi film karya Kasdan, The Big Chill, mengisahkan sekelompok sahabat semasa kuliah yang kembali berkumpul setelah salah satu dari mereka meninggal akibat bunuh diri. Saat mereka berkumpul untuk menghadiri pemakaman dan menghabiskan akhir pekan bersama, mereka menengok kembali masa lalu, menghadapi hubungan lama, emosi yang belum tuntas, serta kehidupan mereka saat ini.
Goldblum memerankan Michael, sosok eksentrik dan unik yang tidak hanya menghadirkan unsur komedi tetapi juga menawarkan momen-momen penuh wawasan mendalam. Ia adalah seorang jurnalis sinis yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Sifatnya yang tak terduga serta pengamatannya yang jenaka menjadikannya bagian tak terpisahkan dari jajaran pemain. Meski tidak semua aspek film ini terasa relevan seiring berjalannya waktu, inti ceritanya tetap mengena di hati. Dengan menjaga keseimbangan yang apik antara satire sosial dan sentimen emosional, film ini secara cerdas menyoroti perkembangan—atau dalam beberapa kasus, kemunduran—para karakternya, sembari tetap menyuguhkan paduan pas antara kehangatan dan humor.
3. The Right Stuff (1983)
“Wah, mereka gila. Mereka benar-benar gila.” Philip Kaufman juga menyutradarai drama sejarah berskala besar ini, yang berkisah tentang lahirnya program antariksa AS dan para pilot yang menjadi astronaut pertama. Jajaran pemeran utama dilengkapi oleh Sam Shepard, Fred Ward, Dennis Quaid, dan Ed Harris, sementara Goldblum mendapat peran kecil sebagai perekrut NASA yang terlibat erat dalam pengembangan program antariksa tersebut.
Goldblum tampil memukau sebagai birokrat yang berupaya mencari orang-orang yang mampu mengemban tugas raksasa dalam program Mercury. Meskipun peran ini tidak sepenuhnya menampilkan jangkauan akting atau bakat terbaiknya, film ini tetap menjadi salah satu karya paling ikonik yang pernah ia bintangi. Secara keseluruhan, The Right Stuff sukses sebagai film epik yang menonjolkan pengembangan karakter; keberhasilannya tak lepas dari pemilihan pemain yang sempurna serta arahan Kaufman yang sangat meyakinkan. Film ini menuai banyak pujian dan menjadi salah satu film dengan ulasan terbaik di era 1980-an.
2. Jurassic Park (1993)
“Pernahkah Anda mendengar tentang teori kekacauan?” Jurassic Park jelas merupakan film paling terkenal secara global yang pernah dibintangi Goldblum. Ia berperan sebagai Dr. Ian Malcolm, seorang matematikawan dan ahli teori kekacauan yang memperingatkan para pencipta taman tersebut bahwa upaya mereka mengendalikan alam dapat berujung pada bencana besar. Ia ibarat sosok Cassandra dalam film ini. Saat dinosaurus lepas dan kekacauan pecah, Malcolm menjadi salah satu tokoh kunci dalam menghadapi situasi yang berbahaya tersebut.
Penampilan Goldblum sebagai Malcolm—sosok yang sarkastis namun penuh wawasan—menjadi salah satu daya tarik utama film yang sangat digemari ini. Kecerdasan dan pesonanya berpadu apik dengan pemikirannya yang tajam di bidang sains, menjadikannya sosok yang lebih dari sekadar stereotip "pria kutu buku". Spielberg melakukan pemilihan pemeran yang tepat. Karakternya begitu populer hingga memiliki kartu Magic: The Gathering sendiri yang bertema Jurassic Park. Secara keseluruhan, film ini tetap terasa istimewa dan kualitasnya terjaga dengan sangat baik seiring berjalannya waktu.
1. The Fly (1986)
“Bersiaplah untuk takut. Sangat takut.” Menempati posisi teratas dalam daftar ini adalah The Fly karya David Cronenberg; film yang—mungkin lebih dari film lainnya—memberikan wadah bagi Goldblum untuk memamerkan kemampuan aktingnya yang unik. Ia memerankan Seth Brundle, seorang ilmuwan jenius yang menjadi korban eksperimennya sendiri saat DNA-nya secara tidak sengaja menyatu dengan DNA seekor lalat. Seiring tubuhnya perlahan berubah menjadi makhluk hibrida yang mengerikan, Goldblum menyuguhkan penampilan yang mencekam—sekaligus tragis dan menakutkan—yang mengingatkan kita pada kisah Metamorphosis karya Kafka.
Di sini, Goldblum tampil sebagai sosok yang cerdas dan kutu buku, namun juga karismatik dan memikat, menjadikan karakter Brundle jauh lebih menarik dibandingkan sekadar sosok yang tertulis dalam naskah. Ia sangat pas dengan gaya body horror ala Cronenberg yang brutal dan menjijikkan (kabarnya, Goldblum mendapatkan peran ini antara lain karena ia bersedia menjalani proses tata rias yang memakan waktu berjam-jam, sesuatu yang enggan dilakukan oleh beberapa bintang lainnya). The Fly tetap menjadi salah satu proyek sang sutradara yang paling mencolok dan ikonik, dan Goldblum memegang peran kunci yang menjadikannya sebuah karya hebat.
Sumber: collider
Comments
Post a Comment