Top 10 Lagu Peter Gabriel Terbaik

19 Agustus 2026


Peter Gabriel akan merilis album O/I pada tahun ini setelah terakhir merilis album I/O pada tahun 2023. Kami meminta para pembaca untuk memilih lagu favorit mereka dari mantan vokalis utama Genesis tersebut. Berikut adalah hasilnya.

10. Mercy Street (1986)

Saat menulis lagu untuk album So (1986), Peter Gabriel menemukan sebuah buku karya Anne Sexton, seorang penyair Amerika yang mengakhiri hidupnya sendiri pada tahun 1974. Sexton mulai menulis ketika seorang dokter di rumah sakit jiwa menyarankan kegiatan itu sebagai bentuk terapi yang bermanfaat; karya-karyanya—termasuk naskah drama tahun 1969 berjudul Mercy Street—berulang kali menyoroti pencarian akan sosok ayah. "Pencarian itulah yang membuatnya bertahan hidup lebih lama dibandingkan banyak orang di sekitarnya dan memberikan makna bagi hidupnya," ujar Gabriel. "Dan kini, karya-karyanya memberikan harapan bagi orang lain."

Sexton menjadi inspirasi utama saat Gabriel menulis "Mercy Street," sebuah lagu balada indah dalam album So yang menjadi favorit penggemar meskipun tidak pernah dirilis sebagai singel resmi. Ia telah membawakan lagu tersebut berkali-kali dalam konser dan selalu mendedikasikannya untuk Anne Sexton.

  9. San Jacinto (1982)

Pegunungan San Jacinto terletak di dekat kota resor mewah Palm Springs, California. Sebuah suku penduduk asli Amerika yang hidup dalam kemiskinan bermukim tepat di dekat kawasan tersebut, dan kontras antara kedua komunitas ini menjadi pemikiran Peter Gabriel saat ia menulis lagu "San Jacinto" untuk album Security (1982). Lagu ini berkisah tentang sebuah ritual di mana seorang anak laki-laki ditinggalkan sendirian di gunung setelah terkena bisa ular derik. "Jika ia berhasil turun kembali, berarti ia pemberani," kata Gabriel. "Jika tidak, ia mati. Sesederhana itu. [Lagu ini] adalah kisah tentang kondisi yang ia hadapi saat kembali dan apa yang dilakukan Amerika terhadap budayanya."

  8. Games Without Frontiers (1980)

Pada era 1970-an dan 1980-an, Jeux Sans Frontières adalah acara gameshow populer di seluruh Eropa yang menampilkan tim-tim dari berbagai negara yang bersaing dalam berbagai perlombaan yang jenaka dan tidak lazim. Acara itu dimaksudkan untuk menjalin ikatan antarnegara, namun Peter Gabriel tidak melihat sisi menyenangkannya; ia justru menyindir acara tersebut lewat lagunya tahun 1980, "Games Without Frontiers," yang menampilkan Kate Bush sebagai penyanyi latar. Lagu itu menjadi hit 10 Besar pertamanya di Inggris dan bahkan berhasil menembus peringkat 50 Besar di Amerika. Itu merupakan awal dari dekade yang sangat sukses bagi mantan vokalis utama Genesis tersebut.

  7. Shock the Monkey (1982)

Banyak orang mengira bahwa lagu Peter Gabriel tahun 1982, "Shock the Monkey," membahas tentang hak-hak hewan—karena, yah, judulnya saja "Shock The Monkey" dan video musiknya menampilkan seekor primata yang tampak tertekan di dalam kandang. Namun, lagu itu sebenarnya bercerita tentang rasa cemburu, dan sosok monyet di dalamnya melambangkan naluri primitif manusia.

  6. Here Comes the Flood (1977)

Saat merekam album solo pertamanya pada tahun 1977, Peter Gabriel bertekad melakukan segala upaya untuk membuktikan bahwa ia telah berkembang melampaui masa-masanya bersama Genesis. Lagu-lagu seperti "Modern Love," "Moribund the Burgermeister," dan "Humdrum" sangat berbeda dari materi apa pun dalam album The Lamb Lies Down on Broadway, dan semuanya ditutup dengan balada piano bernuansa alkitabiah berjudul "Here Comes the Flood." Ia menulis lagu tersebut pada suatu malam setelah mengalami mimpi yang sangat nyata, di mana "penghalang psikis yang biasanya mencegah kita melihat isi pikiran satu sama lain telah terkikis habis, sehingga menciptakan banjir mental."

  5. Sledgehammer (1986)

"Sledgehammer" begitu berbeda dari lagu-lagu Peter Gabriel sebelumnya hingga banyak orang menganggapnya sebagai upaya sengaja untuk menembus tangga lagu pop. "Bukan begitu kejadiannya," ujar Gabriel kepada Rolling Stone pada tahun 2012. "Malah, [pemain bas] Tony Levin mengingatkan saya bahwa saat itu ia sedang berkemas untuk pulang, lalu saya memanggilnya kembali ke studio dan berkata, 'Saya punya satu ide yang mungkin bisa kita coba-coba untuk album berikutnya—tapi saya suka nuansanya.' Saat itu sudah larut, dan kami langsung menemukan groove-nya; kami berhasil mendapatkan irama drum yang indah serta lini bas yang hebat, dan semuanya pun menyatu dengan sempurna."

Selain itu, ia membuat video yang sangat inovatif; MTV menayangkannya sekitar 50.000 kali sepanjang tahun 1986 dan 1987. Video tersebut mengubah status Peter Gabriel menjadi musisi kelas stadion, namun sekaligus menjadi pencapaian yang sulit untuk ditandingi. "Saya tidak banyak bersinggungan dengan budaya populer," ujar Gabriel pada tahun 2012. "Jadi, itu adalah salah satu momen di mana hal tersebut terjadi." Sudah hampir 40 tahun berlalu sejak "Sledgehammer" dirilis, dan selama kurun waktu itu, Gabriel hanya meluncurkan dua album studio yang berisi materi orisinal.

  4. Red Rain (1987)

Seperti halnya banyak lagu Peter Gabriel lainnya, "Red Rain" bermula dari sebuah mimpi yang berulang. Dalam mimpi tersebut, Gabriel sedang berenang di dalam kolam raksasa berisi cairan berwarna merah dan putih. Mimpi itu memicu gagasan untuk lagu pembuka yang memikat dalam album So (1986)—album yang juga menampilkan Stewart Copeland dari grup The Police pada bagian perkusi. Meskipun bukan merupakan hit besar, lagu ini telah menjadi bagian penting dari daftar lagu yang ia bawakan dalam pertunjukan langsung selama tiga dekade terakhir.

  3. Biko (1980)

Pada tanggal 12 September 1977, aktivis anti-apartheid Steve Biko dibunuh oleh polisi setelah ia ditangkap karena menyuarakan penentangan terhadap pemerintah Afrika Selatan yang rasis. Tragedi tersebut menjadi satu lagi bukti bagi dunia bahwa apartheid adalah kejahatan yang tidak dapat ditoleransi, dan tiga tahun kemudian Peter Gabriel menulis lagu "Biko" untuk mengenangnya. Lagu yang menggugah perasaan dan memiliki bagian refrain yang hanya terdiri dari satu kata ini menjadi penutup bagi penampilan Peter Gabriel di tahun 1980-an. Lagu ini juga kerap menjadi penutup dalam banyak konsernya; Gabriel biasanya meninggalkan panggung sebelum lagu itu usai, membiarkan penonton melanjutkan seruan "Biko" tersebut.

  2. In Your Eyes (1986)

"In Your Eyes" meraih kesuksesan besar saat dirilis sebagai singel pada bulan September 1986, namun dampaknya tidak mampu melampaui "Sledgehammer." Akan tetapi, tiga tahun kemudian film Say Anything karya Cameron Crowe tayang di bioskop; dalam adegan puncaknya, John Cusack mengangkat sebuah boombox berukuran besar yang memutar lagu "In Your Eyes" dengan lantang untuk melantunkan lagu cinta bagi Ione Skye. Momen tersebut menjadi salah satu adegan paling ikonik dalam sejarah sinema pada masa itu, sekaligus mengubah "In Your Eyes" menjadi sebuah lagu klasik sejati. "Saya pernah berbincang dengan John Cusack mengenai hal itu," ujar Gabriel pada tahun 2012. "Kami seolah terjebak bersama dalam satu momen kecil namun bermakna dalam budaya kontemporer."

  1. Solsbury Hill (1977)

Peter Gabriel menulis "Solsbury Hill" tak lama setelah keluar dari Genesis, dan hampir setiap liriknya mencerminkan rasa frustrasinya menjalani kehidupan di dalam sebuah band rock yang sangat sibuk. "Aku merasa hanya menjadi bagian dari pemandangan," demikian ia bernyanyi.

"Aku melangkah keluar dari mesin itu." Lagu tersebut merupakan singel solo perdananya, dan lagunya yang berirama ceria itu sering diputar di berbagai stasiun radio di Amerika dan Inggris. Belakangan ini, lagu tersebut begitu sering digunakan dalam berbagai trailer film hingga muncul sebuah trailer parodi jenaka untuk film The Shining yang menyindir tren penggunaan lagu itu. "Mungkin saya sudah terlalu sering membiarkannya digunakan," kata Gabriel pada tahun 2011. "Saya tahu ada orang-orang yang merasa lagu itu sudah terlalu sering diputar dan saya membiarkannya digunakan terlalu banyak kali."

Sumber: rollingstone

Comments

Popular